Di awal keseharianku di Bandung, seperti biasanya pagi itu aku memarkir Yamaha Mio-ku di basement satu Japati dan melangkah menuju lift. Tertuju mataku pada seseorang yang melintas di dekatku, sosok yang pernah kukenal ketika masih di Sumatra.
Kayaknya bapak Dian deh ... begitu batinku (maaf, agak disamarkan). Tapi segera terlupakan begitu sampai meja kerjaku.
Di hari yang lain, adzan Dhuhur berkumandang dari masjid Darul Ihsan Lt. 2, segera aku ke toilet untuk mengambil air wudlu dan turun menuju masjid di lantai 2.
Setelah sholat, lagi-lagi bertemu dengan bapak Dian, sepengamatanku beliau rajin ke masjid. Kebetulan aku melihat seorang kawan ex. Sumatra, kutemui Dwi (disamarkan juga).
"Itu kan bapak Dian?", aku bertanya. "Iya betul. Sering sholat di masjid", jawab temanku Dwi.
Kuberpikir, seseorang yang dulu waktu di Aceh dan Lampung menjadi kepala kantor, sekarang di Japati berpangkat sama denganku. Dan sudah beberapa bulan ini naik pangkat menjadi Senior Officer
Dulu kemana-mana menggunakan mobil dinas jabatan, dan disambut sebagai pimpinan/kepala kantor. Dapat bebagai fasilitas.
Tapi sekarang, hanya menggunakan sepeda motor, tanpa fasilitas tambahan lainnya. Bedanya lagi, sekarang lebih rajin ke masjid.
Teringat aku, bapak Dian ini dulu waktu jabatannya masih "gagah", cepat naik darah dan dituruti bawahan, bukan karena dedikasi para bawahan, tapi karena ditakuti. Bahkan kabarnya seorang karyawati sampai pingsan merasakan hawa panas amarahnya.
Hmmm ... teringat aku pada suatu seminar motivasi, bahwa apakah seorang pimpinan yang dicintai oleh bawahannya, terlihat setelah pemegang amanah tsb. tidak lagi menjabat, berkuasa atau pensiun.
Cukup satu pertanyaan : maukah ex. bawahannya memberikan respek (positif) bila bertemu bahkan masih mau kirim hadiah ke rumahnya ? Bila jawabannya tidak, artinya dulu bawahannya respek karena jabatan atau kekuasannya, bukan karena sifat kepemimpinannya.
Aku merenung, saat ini memang aku tidak punya bawahan. Tapi bisa jadi suatu saat nanti Allah swt. memberikan amanah lebih di pundakku, untuk ditunaikan sebaik-baiknya.
Aku hanya bisa berdoa pada-Mu ya Allah swt., semoga pada saat Engkau memberikan amanah kepadaku ...
aku sanggup memikulnya dengan baik
aku menjadikannya sebagai ladang amal, bukan ladang maksiat
aku lebih mengharap ridho-Mu
dan rasa cinta dan sayang dari orang-orang yang kupimpin
daripada segudang pujian dari manusia
aku bisa mengakhiri amanah tsb. dengan "khusnul khotimah"
aku bisa mengakhiri amanah tsb. dengan "khusnul khotimah"
semoga teman-temanku masih mengganggapku sebagai sahabat, walau tak ada lagi jabatan yang kusandang
Amien.
Gegerkalong Hilir 47 Bandung
Gegerkalong Hilir 47 Bandung

No comments:
Post a Comment