Sahabatku ... bahwa seorang sahabat yang baik akan mengatakan dengan jujur dan mengingatkan kita walaupun "rasanya pahit" bagi kita.
Kali ini aku ingin berbagi apa yang kudapat hari ini. Semoga sobat tidak bosan membaca tulisanku.
======================================================
Mumpung Jumat pagi ini ada meeting di Telkom LC Gegerkalong Hilir, kusempatkan sholat Jumat di masjid Daruut Tauhid (DT). Seingatku, jadwal khotbah kali ini Aa Gym sendiri yang akan mengisinya. Hmm ... boleh dibilang ini pertama kalinya aku sholat Jumat di DT :-)
.
Sudah lewat jam sebelas siang, kupacu motorku ke DT. Alhamdulillah, masjid belum penuh. Kuparkir motorku dan berjalan menuju penitipan sepatu. Hmm... ternyata bisa nitip tas juga. Berpikir sebentar ... kuputuskan kutitipkan tasku yang berisi notebook, yakin deh mereka amanah, Insya Alloh aman.
Segera kuambil wudlu dan naik ke masjid. Ambil posisi di ruas tengah, yang langsung bisa melihat khotib, tidak via internal TV. Sholat sunnah, ada pengumuman dari pengurus dan tak lama kemudian telah siap di mimbar ... KH Abdullah Gymnastiar. Adzan berkumandang dan mulailah khotbah Aa Gym siang ini.
Beliau membuka khutbah dengan sebuah perumpamaan orang-orang di sekitar kita :
- orang pertama memberikan pujian, tentu bahasanya manis didengar
- orang kedua membawakan makanan, pasti enak
- orang terakhir memberikan peringatan akan bahaya di dekat kita, dengan bahasa yang tegas dan mungkin kurang enak didengar.
Mana yang akan kita perhatikan ?
Tentunya orang yang mengerti kebaikan, akan memperhatikan hal terakhir.
Begitulah orang yang sebenarnya sayang sama kita dengan memberikan suatu peringatan, dimana tujuannya supaya kehidupan kita selamat.
Beliau memberikan tausiah bahwa supaya kehidupan kita juga selamat, kita perlu instrospeksi diri.
Cara-cara yang beliau contohkan adalah :
1. Muhasabah
Menyendiri di tempat yang tenang. Bila perlu kita siapkan foto diri kita, pandangi ...
pandangi matanya ... dipakai untuk melihat apa saja, kebaikan atau maksiat
pandangi telinganya ... apa saja yang didengarkan
mulutnya, tangannya ... (sahabat ... coba bayangkan gaya Aa Gym sambil membaca tulisan ini)
[ ya Allah ... tersadar aku akan diri ini. Ingin kumenangis mengingat masa yang tlah lalu ... ]
2. Miliki dan gunakan cermin
Pandangi diri yang ada dalam cermin, apakah selama ini sudah jujur kepada diri sendiri, atau sering menipu diri ?
Bahkan orang yang terdekat dengan kita pun belum tentu tahu hal yang sebenarnya dari diri kita.
Ada orang yang suka dipuji, disanjung, kelihatan bagus, sehingga melakukan cara yang tidak jujur, bahkan kepada diri sendiri.
Kalo sudah berani membohongi diri sendiri, apa lagi dengan orang lain ...
Coba lihat di sekeliling kita, istri kita, anak-anak kita, apakah selama ini bila dekat dengan kita, mereka merasa nyaman dengan kita atau sebaliknya .... takut, menghindar bila bertemu dengan kita.
Introspeksi ... orang-orang yang terdekat dengan kita adalah cermin kita ... bagaimana sebenarnya kita ini, karena mereka akan bersikap dengan jujur. Hati mereka (anak-anak) itu masih bersih.
[ ya Allah ... aku mohon ampun sekiranya dalam mendidik anak-istri ada yang kurang berkenan di hati mereka. maafkanlah suamimu ... maafkanlah ayahmu ini nak, yang terkadang memukul badan mungilmu ... ]
[ kuberpikir juga ... orang-orang terdekat kita bukan hanya di rumah, di kantor juga. apakah selama ini teman-temanku merasa nyaman denganku ?]
3. Nasihat dari ulama
Datangi ulama, ulama yang sesuai antara perkataan & perbuatan. Dapatkan nasihatnya.
[ hmm ... seringkah kita selama ini meminta nasihat dari ulama? ]
4. Manfaatkan orang yang tidak suka dengan kita
Jadikan orang yang tidak suka dengan kita, sering mengkritik kita, sebagai koreksi bagi diri kita.
Sabar ... tidak perlu kita marah, apalagi dendam ... introspeksi saja ... ambil hikmah dan tausiah dari apa yang disampaikan.
[ duuhh ... ya Allah ... kusadar diri ini masih jauh dari sikap ini ... berikanlah kesabaran kepadaku ya Allah ketika menghadapi hal semacam ini ]
Barangkali ada suatu saat Allah swt. akan memberikan kesempitan kepada kita, dimana kita sudah tidak bisa mendapatkan bantuan dari manapun, itu sebenarnya Allah swt. sedang menunjukkan kebesaran-Nya, rasa sayang-Nya. Gunakan saat-saat ini untuk taubatan nasuha ... dan mohon pertolongan dari-Nya.
----------
Khotbah ditutup dengan doa, dan seperti biasanya ... doa yang menyentuh ... membuatku menitikkan air mata.
Setelah sholat Jumat, beliau berbicara di depan jamaah.
"Tahun ini, DT dipercaya memberangkatkan 640 jemaah haji. Tanggal sembilan, Aa akan berangkat haji, selama sebulan. Aa mohon maaf bila ada kesalahan, mohon doa mabrur, dan menitipkan masjid ini.
Masjid ini adalah rumah Allah, siapapun boleh memakmurkan. Dan Aa mengucapkan terima kasih kepada jamaah yang telah memakmurkan rumah Allah ini."
"Dimaafkan ?", demikian tiba-tiba Aa mengkonfirmasi. "Dimaafkan ... " sebagian jamaah menjawab.
Sejuk sekali mendengarnya. Seorang ulama yang cukup terkenal masih mau minta maaf, punya sikap rendah hati. Suatu sikap yang membuatnya dicintai dan disayangi oleh umat.
Ku membayangkan seandainya orang-orang terdekatku punya sikap yang menyejukkan ini, keluargaku ... temanku ... pemimpinku dan tak lupa ... diriku sendiri.
Jamaah dalam masjid mulai berkurang, kusempatkan bersalaman dengan Aa Gym sebelum pulang.
Turun dari masjid, ambil tas, cek notebook, Alhamdulillah ... aku bersyukur saudaraku di DT mampu mengemban amanah dengan baik.
Daruut Tauhid Bandung
